Some people are too complicated. Speak and act as if they know everything. Nggak punya suka dianggap nggak ngerti. Yang nggak terlihat suka dianggap nggak pernah ada. I used to think that we live to please others. Tapi ternyata itu aja nggak cukup. We need to please ourselves too! Sometimes I'm curious on how people positioning me among them.
Sekitar sebulanan yang lalu, gue ke Bintaro Plaza tapi lupa ngapain aja. Yang gue inget adalah gue nemenin temen ke bazaar Gramedia gitu yang letaknya ada di parkiran mall. Lumayan banyak sih bukunya. Kebanyakan adalah buku-buku baru yang masih terplastik rapi tapi dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari biasanya. Di sana gue menemukan sebuah buku apik yang waktu baca judulnya aja gue udah tertarik. Setelah baca sinopsisnya gue lebih tertarik dan setelah liat harganya... gue makin tertarik lagi. Judulnya The Way of Youth karya Daisaku Ikeda. Buku ini hampir selalu bikin gue bilang, "Ah ini mah gue banget!" atau bahkan, "Ih ini sih kayak si ini banget!" pas gue baca. Mungkin isi buku ini rada klise buat beberapa orang. Tapi karena gue pribadi ngerasa kayak ini buku tuh gue banget, so there's no reason not to love this book!
Buku ini membuka mata gue bahwa gue itu nggak sendiri. Gue bukan satu-satunya orang yang merasa insecure dan sulit menghargai diri sendiri. Bukan juga satu-satunya orang yang merasa hidup itu terlalu complicated, semata-mata karena gue bingung harus mengikuti keinginan pribadi atau orang tua. Dan lain sebagainya sampai urusan persahabatan bahkan cinta.
Bab awal bicara tentang keluarga. Gue seneng banget waktu baca pembahasan tentang orang tua yang tidak kaya. Gue sering banget ngerasa kekurangan. Terutama saat lingkungan dan zaman memaksa gue untuk bisa ikut andil di dalamnya. Atau gue kadang bisa dengan gampangnya iri sama keluarga yang punya banyak quality time. Kadang suka tiba-tiba benci dan ungrateful aja sama apa yang Allah kasih. Tapi setelah baca buku ini, gue pun mengiyakan sebuah statement yang bilang kalau seperti apapun mereka ya itu tetep orang tua lo. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, peraturannya, dan dengan segala usahanya. Kalau mereka nggak ada, lo nggak bakal hidup. Atau sebuah statement yang bilang kalau hanya dengan mengalami kesulitan, kita baru bisa menjadi orang yang mengerti perasaan orang lain. Mungkin kalau gue hidup berkecukupan, gue nggak akan ngerasain gimana susah dan capeknya kerja atau bahkan sekedar nabung untuk beli sesuatu. Mungkin juga gue nggak akan bisa ngerasain gimana susahnya orang-orang di luar sana untuk sekedar makan atau bayar kuliah. Gue akan selalu minta ini itu sama orang tua sampe gue lupa buat usaha sendiri. Semua kesulitan yang ada justru bikin gue sadar bahwa untuk survive itu emang nggak mudah. Pada akhirnya gue tetep harus bersyukur karena Allah pilih gue untuk belajar survive dari sekarang.
Selanjutnya tentang persahabatan. Kita emang nggak bisa milih kita mau lahir di keluarga yang seperti apa, tapi kita bisa milih dengan siapa kita mau berteman dan bersahabat. Dan ternyata buku ini pun mengutarakan statement yang sama. Nyari temen bahkan sahabat yang tepat dan bisa ngertiin kita apa adanya itu susah. Kita nggak bisa baca isi hati orang lain. Hati manusia terlalu rumit. Orang selalu berubah. Makanya jangan heran kalau ada persahabatan yang kandas di tengah jalan. Bukan lo yang salah, bukan sahabat lo juga yang salah. Tapi mungkin salah satu di antara lo berubah dan nggak siap untuk terima perubahan satu sama lain. Akhirnya lebih memilih untuk cari lingkungan baru yang bisa terima perubahan itu. Yang penting intinya satu sih. Tulus. Sepanjang lo memperhatikan orang lain dengan tulus, maka pada suatu hari hati lo bisa membuat mereka mendengar lo.
Lanjut soal cinta nih. Jadi ada kalimat yang bikin gue jadi cukup santai setelah baca itu. Ada saat tersendiri untuk masing-masing hal di dalam kehidupan. Ada saatnya muda, saatnya memasuki dunia dewasa, saatnya hamil, punya anak, dan seterusnya. Bergerak maju selangkah demi selangkah ke dalam setiap tahap itu sesuai dengan kewajaran. Cocoklah buat yang udah ngebet banget buat punya pacar terus nikah. Tenang, semua ada waktunya. Nikmatin aja setiap perjalanannya karena belum tentu akan keulang lagi. Allah selalu melihat kesiapan lo. Kalau sampai saat ini lo nggak punya pacar, ya udah mungkin pacar atau bahkan jodoh lo lagi dipersiapkan. Nggak dikasih sekarang supaya mungkin lo nggak pusing-pusing mikirin sakit hati dan lain sebagainya dulu. Atau mungkin lo lagi ditempatkan di zona indah Tuhan supaya lo nggak didekatkan dengan hal-hal yang nggak baik dan bikin lo pusing.
Lanjut soal cinta nih. Jadi ada kalimat yang bikin gue jadi cukup santai setelah baca itu. Ada saat tersendiri untuk masing-masing hal di dalam kehidupan. Ada saatnya muda, saatnya memasuki dunia dewasa, saatnya hamil, punya anak, dan seterusnya. Bergerak maju selangkah demi selangkah ke dalam setiap tahap itu sesuai dengan kewajaran. Cocoklah buat yang udah ngebet banget buat punya pacar terus nikah. Tenang, semua ada waktunya. Nikmatin aja setiap perjalanannya karena belum tentu akan keulang lagi. Allah selalu melihat kesiapan lo. Kalau sampai saat ini lo nggak punya pacar, ya udah mungkin pacar atau bahkan jodoh lo lagi dipersiapkan. Nggak dikasih sekarang supaya mungkin lo nggak pusing-pusing mikirin sakit hati dan lain sebagainya dulu. Atau mungkin lo lagi ditempatkan di zona indah Tuhan supaya lo nggak didekatkan dengan hal-hal yang nggak baik dan bikin lo pusing.
Masih banyak chapter-chapter berikutnya yang isinya juga nggak kalah oke dari chapter awal. Berhubung terlalu banyak, gue mau menyatukan kalimat-kalimat ciamik yang gue stabiloin aja di buku ini. Setelah gue satukan, isinya kira-kira gini:
Sebagai musim pertumbuhan, masa muda itu adalah saat yang baik untuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang besar. Penuh dengan segala macam persoalan dan kecemasan. Tapi masa muda bukanlah saat untuk merasa pesimis atau kasihan pada diri sendiri. Setiap penderitaan yang kita alami justru yang akan membuat kita bisa bertumbuh kuat dan jadi orang dewasa yang dimampukan. Jangan lupa untuk utamakan kepribadian. Kepribadian itu seperti sungai. Pada suatu saat, tepiannya jelas terlihat. Kepribadian adalah bahan dari hidup dan cara hidup menentukan kebahagiaan. Suka atau tidaknya orang lain terhadap kita juga berbanding lurus dengan bagaimana kepribadian kita. Inget, sekali kita terjun ke masyarakat, nggak akan ada banyak orang yang akan begitu jujur.
Sebagai musim pertumbuhan, masa muda itu adalah saat yang baik untuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang besar. Penuh dengan segala macam persoalan dan kecemasan. Tapi masa muda bukanlah saat untuk merasa pesimis atau kasihan pada diri sendiri. Setiap penderitaan yang kita alami justru yang akan membuat kita bisa bertumbuh kuat dan jadi orang dewasa yang dimampukan. Jangan lupa untuk utamakan kepribadian. Kepribadian itu seperti sungai. Pada suatu saat, tepiannya jelas terlihat. Kepribadian adalah bahan dari hidup dan cara hidup menentukan kebahagiaan. Suka atau tidaknya orang lain terhadap kita juga berbanding lurus dengan bagaimana kepribadian kita. Inget, sekali kita terjun ke masyarakat, nggak akan ada banyak orang yang akan begitu jujur.
Ini baru sebagian kecilnya. Masih ada bahasan tentang belajar, pekerjaan, impian dan tujuan, kepercayaan diri, dll. It greatly helps me and I hope you too. Oh ya, pas gue baca buku ini terutama di chapter-chapter awal, gue selalu inget salah satu sahabat baik gue. And I've bought one for her. Be home soon pretty.
Jadi ceritanya hari ini gue ngampus jam 9.20 dan jam 11 kurang udah kelar aja gitu, soalnya dosen gue ada rapat. Terus matkul kedua pun ditiadakan. Entah kenapa mungkin dosen gue tau kalo gue lagi sakit gigi dan bakal nggak mood parah buat belajar kalkulus (lah siapa ente?). Akhirnya gue memutuskan buat langsung pulang ajalah daripada luntang-lantung nggak jelas di kampus. Sampe di rumah, tiba-tiba gue pengen ngeraut pensil alis yang udah tumpul maksimal dan akhirnya sampailah di pikiran dimana gue jadi pengen gitu mencukur alis gue supaya lebih cihuy kayak cewek-cewek remaja menuju dewasa di luar sana. HEHEHE. Tahai banget nih sekarang gue jadi makin centil aje kayaknya.
Setelah gue mikir "enaknya cukur pake apa ya. Kalo dicabut kayaknya sakit.", gue berencana untuk browsing tutorial mencukur alis gitu di yutcub. Tapi ujung-ujungnya malah buka tutorial pemakaian pensil alis supaya alis terlihat lebih ciamik tanpa harus dicukur. Nggak terlalu mempan sih sebenernya karena yang ada di pikiran gue malah, "ya Allah ribet bener ngukirnyaaa. Yang ada gue ditinggal kondangan nggak sih kalo sebegini repotnya." Tapi nggak sih, gue lebay aja. Nggak seribet itu juga. Apalagi buat orang-orang yang emang into make up. Terus nih ya, entah malaikat apa yang membisikan ide cemerlang di kuping gue, akhirnya gue mengakhiri pencarian tutorial-tutorial itu dengan browsing "Hukum Mencukur Alis dalam Islam". MasyaAllah.
Menurut beberapa artikel yang gue baca dari google, gue baru tau ternyata mencukur alis itu hukumnya haram ges! Kenapa? Karena (katanya) itu sama aja mengubah ciptaan Allah dan mengikuti setan yang selalu memperdaya manusia supaya mengubah ciptaan Allah. Alamakjang. Tapi ada juga beberapa mazhab yang memperbolehkan dengan maksud tertentu.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata." (QS. 4:116-119)
Diriwayatkan dalam Kitab Ash-Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu bahwa ia berkata: "Semoga Allah melaknat wanita-wanita yang mentatto dirinya atau meminta ditattokan, yang mencukur bulu alisnya atau meminta dicukurkan, yang mengikir giginya supaya kelihatan indah dan mengubah ciptaan Allah." Kemudian beliau berkata: "Mengapa aku tidak melaknat orang-orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam Kitabullah, yakni firman Allah:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. 59:7)
Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.
Tapi....
Prof Abdul Karim Zaidan dalam Al-Mufashhal fi Ahkam al-Marati wa Bait al Muslim mengatakan, para ulama tidak sepakat terkait hukum memotong atau mencukur bulu alis. Perbedaannya ada pada ketidaksamaan persepsi penafsiran hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Masud. Hadis itu menyebutkan laknat Allah SWT atas sejumlah kelompok, salah satunya ialah para pencukur alis mata.
Menurut sebagian ulama, larangan mencabut an-namsh alis itu didasari atas sebuah alasan, yaitu guna mengindari penyerupaan atas para ahli maksiat atau dijadikan sebagai modus penipuan dengan menyamar.
Bila kekhawatiran itu tidak terjadi atau kemungkinannya nihil, tak jadi soal mencabut atau menghilangkan alis mata. Pendapat ini diambil oleh Ibn al-Jauzi. Ini seperti dinukilkan dari kitab al-Iqna. Ia merupakan satu-satunya tokoh dari Mazhab Hanbali yang berpandangan demikian.
Ada juga ulama yang memandang bahwa sebetulnya yang dilarang pada hadis riwayat Abdullah bin Masud tersebut ialah menghilangkan alis mata dengan cara mencabut hingga akarnya. Sedangkan, bila hanya mencukur atau menggunting hal itu diperbolehkan. Ini merupakan pendapat yang berlaku di mayoritas Mazhab Hanbali.
Menurut Mazhab Maliki, larangan itu berlaku bagi perempuan yang tidak lagi diperbolehkan berhias secara muluk-muluk. Mereka, misalnya, adalah istri yang ditinggal mati atau dicerai suaminya. Dengan demikian, hadis ini tidak bertentangan dengan riwayat Aisyah RA yang memperbolehkan menghilangkan alis di wajah.
Di kalangan Mazhab Syafii, menurut Syekh Sulaiman al-Jamal as-Syafii, penghilangan alis diperbolehkan bila yang bersangkutan telah mengantongi izin suami. Tindakan itu ia ambil dengan tujuan mempercantik diri dan tampil menarik guna membahagiakan suami. Bila tidak, hukumnya tidak boleh.
Pendapat tersebut juga berlaku di Mazhab Hanafi. Menurut Ibnu Abadin al-Hanafi, mencabut atau mencukur bulu alis dilarang bila hal itu dilakukan untuk bersolek dan mengumbar kecantikannya di hadapan publik. Jika hal itu dilakukan untuk menyenangkan hati suami yang kurang suka dengan alis, tentu penghilangan alis diperbolehkan.
Imam an-Nawawi mengutarakan, ada pengecualian dari kasus larangan mencabut bulu di bagian wajah perempuan. Yaitu, jika tumbuh kumis ataupun jenggot tipis dan bulu halus di sekitar leher. Bulu-bulu tersebut hukumnya boleh dihilangkan, bahkan dianjurkan.
***
Gue sebenernya bingung sih nyimpulinnya. Tapi kalo mau ambil aman aja sih yang pasti ya nggak perlu cukur alis. Lagi pula gue belum menikah. Pun kalo gue nikah nanti, belum tentu niat gue cukur alis semata-mata hanya untuk suami. Pasti terlintas jugalah pengen cantik di depan orang lain. Untuk saat ini fix, I choose not to shave my eyebrows. Lebih ke cari aman. Dan yaudah aja, semoga Allah memuliakanku dan pensil alis yang ku pakai supaya terciptalah mahakarya alis yang cihuy nan ciamik.
Sumber:
http://islamqa.info/id/2162
http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merapikan-alis/
http://www.republika.co.id/berita/humaira/samara/13/02/19/mige9y-ingin-merapikan-alis-bolehkah
Nggak berasa ya dut, 19 tahun. Meskipun gue nggak deket sama lo dari SD atau bahkan dari lo kecil, tapi gue seneng bisa jadi salah satu bagian yang berkesempatan untuk mengikuti setiap perubahan dalam diri lo. Bahkan untuk perubahan-perubahan yang luar biasa.
Gue inget banget dulu waktu SMP gue cuma tau sekedarnya aja tentang lo. Si Agni anak kelas 8.2 yang jadi salah satu personil The Muncrat Band yang tampil di depan podium pas apel dan hits pada masanya. Gue pikir ni anak gendut banget, pede parah, lucu, tapi amit-amit. Eh, imut-imut. Sampe akhirnya pas kelas 9, karena kita sering makan bareng di depan UKS pas istirahat bareng anak-anak Ber-9, kita jadi sering main bareng dan kenal lebih jauh satu sama lain. Belum lagi karena lo, Shofa, dan gue rumahnya searah, tiap main kita selalu balik bareng. Kita juga hampir selalu boti (bonceng tiga) kalau pulang les Mitra. Lo nganterin gue balik sampe depan rumah. Kadang kalau udah ditelfon nyokap, ngaterinnya cuma sampe MA. Meskipun bete sih, ongkos dari MA ke rumah kan justru lebih mahal. Terus gara-gara kita sering pulang bareng, otomatis kita bertiga juga jadi sering banget main bareng. Sampe anak-anak Ber-9 yang lain suka nanyain kenapa nggak diajak main. Selain itu, gue ngerasa ada aja yang bikin kita makin deket lagi.
Orang yang gue anggap sahabat itu lebih dari satu, seperti yang lo tau. Tapi kalau gue disuruh ngelist dan sebutin siapa yang paling punya andil di hidup gue, saat ini gue akan tulis nama lo di paling atas, paling pertama. Meskipun kadang gue suka sewot, ngomel, dan sesensitif itu kalo lagi PMS, tapi lo bisa mengerti gue, ya meskipun seringnya tetep bikin gue murka. Gue nganggep lo itu udah kayak keluarga sendiri. Malah lebih deket daripada keluarga yang sesungguhnya karena banyak hal yang lo lebih tau. Gue nggak peduli sama omongan orang tentang lo karena seburuk-buruknya Agni, ya tetep Agni (ya iyalah. Hmm..). Itu Agni yang gue kenal dari pertama kali gue sahabatan. Jelas orang itu tumbuh dan berkembang dan gue menghargai setiap langkah yang lo pilih selama itu baik. Gue seneng karena Agni yang beratnya 60 kg, sekarang bisa menginjak angka 40an dan disukai banyak lelaki. Gue seneng karena Agni yang dulu celengannya suka keliatan, sekarang udah bisa menutup auratnya, bahkan berjilbab.
Makin ke sini gue makin ngerti. Sahabat itu bukan cuma orang yang temenan lama, bukan yang cuma bisa bikin ketawa. Sahabat itu saling membutuhkan. Gue seneng karena lo kuliah di Jakarta. Nggak butuh sebulan lebih untuk nunggu lo pulang. Gue tetep bisa ngajak lo ke sana-sini meskipun nggak semudah dulu. Gue masih bisa pinjem ini itu. Gue masih bisa ke rumah lo malem-malem meskipun ditinggal tidur. Sahabat itu juga saling dibutuhkan. Gue seneng meskipun lo cuma bilang, "I need you, Din." Gue sedih sebenernya waktu lo menceritakan orang-orang baru di sekitar lo yang katanya muka dua (eh jadi gosip), tapi gue seneng waktu lo bilang kalau gue jangan sampe kayak gitu karena lo capek sama orang-orang macem begitu. Gue seneng karena saat lo butuh apapun lo inget gue. Gue lebih seneng lagi waktu tahun baruan kemaren lo bilang, "Pokoknya kita tahun baruan bareng ya, Din. Supaya jadi 4 tahun berturut-turut. Kemana aja pokoknya gue ngikut lu." Jadi berasa punya idola. Gue tau lo bisa ikut nyokap ke TMII meskipun ngebosenin, gue tau kalau seandainya nggak ada kuliah lo bisa ikut Uta ke Puncak. Gue tau mungkin sebenernya nggak tahun baruan 4x berturut-turutpun nggak jadi masalah. Tapi gue tetep seneng karena pada akhirnya lo melabuhkan kekosongan dan keputusan lo itu untuk bisa tahun baruan bareng gue.
Banyak, banyak banget rasanya yang pengen gue ceritain tentang kita berdua, sebagai pengganti dari surprise yang selama kurang lebih 4 tahun terakhir gue lakuin bareng sahabat-sahabat yang lain setiap ada yang ulang tahun. Tapi kali ini cuma bisa gue ganti dengan tulisan dan doa supaya di umur yang semakin bertambah ini, bertambah pula amal baiknya, wawasannya, kesolehahannya, kecantikannya, dan bisa jadi wanita yang bermanfaat terutama untuk orang-orang sekitar. Semoga bisa selalu jadi sahabat yang tepat untuk dibutuhkan, sahabat yang bahunya selalu sedia untuk dijadikan tempat bersandar.
Selamat ulang tahun, Agni Nabila Islamiati.
Love, Dinta.
*hug*
Gue inget banget dulu waktu SMP gue cuma tau sekedarnya aja tentang lo. Si Agni anak kelas 8.2 yang jadi salah satu personil The Muncrat Band yang tampil di depan podium pas apel dan hits pada masanya. Gue pikir ni anak gendut banget, pede parah, lucu, tapi amit-amit. Eh, imut-imut. Sampe akhirnya pas kelas 9, karena kita sering makan bareng di depan UKS pas istirahat bareng anak-anak Ber-9, kita jadi sering main bareng dan kenal lebih jauh satu sama lain. Belum lagi karena lo, Shofa, dan gue rumahnya searah, tiap main kita selalu balik bareng. Kita juga hampir selalu boti (bonceng tiga) kalau pulang les Mitra. Lo nganterin gue balik sampe depan rumah. Kadang kalau udah ditelfon nyokap, ngaterinnya cuma sampe MA. Meskipun bete sih, ongkos dari MA ke rumah kan justru lebih mahal. Terus gara-gara kita sering pulang bareng, otomatis kita bertiga juga jadi sering banget main bareng. Sampe anak-anak Ber-9 yang lain suka nanyain kenapa nggak diajak main. Selain itu, gue ngerasa ada aja yang bikin kita makin deket lagi.
Orang yang gue anggap sahabat itu lebih dari satu, seperti yang lo tau. Tapi kalau gue disuruh ngelist dan sebutin siapa yang paling punya andil di hidup gue, saat ini gue akan tulis nama lo di paling atas, paling pertama. Meskipun kadang gue suka sewot, ngomel, dan sesensitif itu kalo lagi PMS, tapi lo bisa mengerti gue, ya meskipun seringnya tetep bikin gue murka. Gue nganggep lo itu udah kayak keluarga sendiri. Malah lebih deket daripada keluarga yang sesungguhnya karena banyak hal yang lo lebih tau. Gue nggak peduli sama omongan orang tentang lo karena seburuk-buruknya Agni, ya tetep Agni (ya iyalah. Hmm..). Itu Agni yang gue kenal dari pertama kali gue sahabatan. Jelas orang itu tumbuh dan berkembang dan gue menghargai setiap langkah yang lo pilih selama itu baik. Gue seneng karena Agni yang beratnya 60 kg, sekarang bisa menginjak angka 40an dan disukai banyak lelaki. Gue seneng karena Agni yang dulu celengannya suka keliatan, sekarang udah bisa menutup auratnya, bahkan berjilbab.
Makin ke sini gue makin ngerti. Sahabat itu bukan cuma orang yang temenan lama, bukan yang cuma bisa bikin ketawa. Sahabat itu saling membutuhkan. Gue seneng karena lo kuliah di Jakarta. Nggak butuh sebulan lebih untuk nunggu lo pulang. Gue tetep bisa ngajak lo ke sana-sini meskipun nggak semudah dulu. Gue masih bisa pinjem ini itu. Gue masih bisa ke rumah lo malem-malem meskipun ditinggal tidur. Sahabat itu juga saling dibutuhkan. Gue seneng meskipun lo cuma bilang, "I need you, Din." Gue sedih sebenernya waktu lo menceritakan orang-orang baru di sekitar lo yang katanya muka dua (eh jadi gosip), tapi gue seneng waktu lo bilang kalau gue jangan sampe kayak gitu karena lo capek sama orang-orang macem begitu. Gue seneng karena saat lo butuh apapun lo inget gue. Gue lebih seneng lagi waktu tahun baruan kemaren lo bilang, "Pokoknya kita tahun baruan bareng ya, Din. Supaya jadi 4 tahun berturut-turut. Kemana aja pokoknya gue ngikut lu." Jadi berasa punya idola. Gue tau lo bisa ikut nyokap ke TMII meskipun ngebosenin, gue tau kalau seandainya nggak ada kuliah lo bisa ikut Uta ke Puncak. Gue tau mungkin sebenernya nggak tahun baruan 4x berturut-turutpun nggak jadi masalah. Tapi gue tetep seneng karena pada akhirnya lo melabuhkan kekosongan dan keputusan lo itu untuk bisa tahun baruan bareng gue.
Banyak, banyak banget rasanya yang pengen gue ceritain tentang kita berdua, sebagai pengganti dari surprise yang selama kurang lebih 4 tahun terakhir gue lakuin bareng sahabat-sahabat yang lain setiap ada yang ulang tahun. Tapi kali ini cuma bisa gue ganti dengan tulisan dan doa supaya di umur yang semakin bertambah ini, bertambah pula amal baiknya, wawasannya, kesolehahannya, kecantikannya, dan bisa jadi wanita yang bermanfaat terutama untuk orang-orang sekitar. Semoga bisa selalu jadi sahabat yang tepat untuk dibutuhkan, sahabat yang bahunya selalu sedia untuk dijadikan tempat bersandar.
Selamat ulang tahun, Agni Nabila Islamiati.
Love, Dinta.
*hug*
I find it hard to express feelings, but writing helps.
Akhir-akhir ini gue baru aja merasakan sensasi dari menulis, dari blogging atau bahkan sekedar blogwalking. Entah tulisan di blog gue ini worth reading atau nggak, ada yang baca atau enggak, titik koma bener atau enggak, huruf kapital dan segala tetek bengeknya tepat atau nggak, at least gue puas karena mampu mengungkapkan apa yang pengen banget gue ungkapkan. Gue sering ngerasa nggak ada orang yang tepat untuk berbagi, apalagi kalau udah memasuki WIBPC (Waktu Indonesia Bagian Pengen Curhat). Kayak pengennya setiap orang bisa mind reading aja, jadi gue nggak perlu ribet-ribet curhat dan mikirin apa ni orang bakal bisa sengerti itu. But writing helps me through it. Writing makes it easier.
Gue sadar, ternyata gue bukannya nggak punya orang untuk berbagi, bukannya nggak punya orang yang tepat untuk dicurhatin. I just can't express my feelings. I can't explain my thoughts. I can't tell what I feel and what's on mind. Gue cuma nggak tau gimana caranya mulai cerita serius. Gue kebanyakan basa-basi nanya kabar dan haha hihi sampe akhirnya bingung mesti mulai cerita dari mana dan kayak gimana. Tapi setelah mulai ngeblog lagi beberapa bulan lalu, gue ngerasa menulis itu emang magic, canggih. Meskipun kalimat demi kalimat nggak bener-bener spontan keluar langsung dari kepala, seenggaknya otak gue dipaksa berfikir untuk dapat merangkai kata-kata yang pas sehingga terciptalah suatu padanan kata yang tepat dengan apa yang gue pikirkan dan rasakan. Khan mean. Tapi serius, curhat lewat tulisan itu seru banget. Nggak kalah serunya sama curhat secara langsung. Curhat secara tertulis gini juga nggak mesti di blog aja. Apalagi kalau emang ternyata apa yang dicurhatin itu terlalu private dan nggak pantes buat dipublish. Kayak contohnya nih beberapa waktu lalu gue sempet yang udah mumet banget pengen cerita, tapi gue bingung mesti mulai cerita kayak gimana. Pengen nulis tapi nggak mungkin ditulis di blog. Akhirnya gue memutuskan untuk nulis email ke salah satu cobat nan jauh di sana dan gue ceritain semua mulai dari awal sampe akhir. Terus kalau udah sampe di kalimat yang rasanya berat banget, gue langsung mewek aje meler-meler.
Kalau ada yang nanya nih ya (ya kalo ada yang baca juga), kalau curhat di IM kayak BBM gitu bedanya apa kan sama-sama ngetik juga? Ya iya sih sama, tapi feelnya itu beda. Kalau chat, gue cerita dikit, yang sana nyaut, gue nimpalin dikit lagi, sana nyaut lagi. Terus kalau nulis panjang banget di chat rasanya nggak enak aja gitu. Kalau pas kemaren gue cerita lewat email tuh enak banget yang bener-bener semuanya keluar sampe tumpe-tumpe. Tapi ini sih lebih ke saran aja. Gue nggak nyuruh buat harus curhat lewat email. Gue hanya sekedar berbagi. Lagian juga nggak semua curhatan bakal asoy diceritain lewat email. Kalau kayak yang cuma curhat galau-galau dikit tentang cowok dan nggak yang mumet parah sih ngapain, mending chat aja.
Selain curhat, yang gue suka lagi dari menulis terutama blogging adalah gue bisa melihat karakter orang dari sisi lain yang nggak pernah gue liat secara langsung. Jadi misalnya gini, gue selama ini menilai salah satu temen gue itu manja dan kebanyakan bercanda, terus yang kayaknya ni orang susah diajak serius gitu, apalagi untuk ngomong yang bener-bener serius dari hati ke hati. Tapi ternyata gue salah! Setelah gue nggak sengaja menemukan blognya dan baca hampir seluruh tulisannya, gue baru tau ternyata dia punya cara pandang yang oke (menurut gue) tentang hidup dan orang-orang sekitar. Dan yang kayak gini nggak cuma gue temukan di satu orang aja. Mungkin sebagai remaja yang lagi rempong banget mencari jati diri, gue jadi seneng sama orang yang pemikirannya kayak temen gue ini. Gue seneng sama orang yang meskipun di umur segini, nggak apa-apa ceritanya seputar cowok, cowok, dan cowok mulu. Tapi yang lebih bikin mikir atau at least ngerasa "ih sama banget!" Jadi kapan mau mulai nulis?
Akhir-akhir ini gue baru aja merasakan sensasi dari menulis, dari blogging atau bahkan sekedar blogwalking. Entah tulisan di blog gue ini worth reading atau nggak, ada yang baca atau enggak, titik koma bener atau enggak, huruf kapital dan segala tetek bengeknya tepat atau nggak, at least gue puas karena mampu mengungkapkan apa yang pengen banget gue ungkapkan. Gue sering ngerasa nggak ada orang yang tepat untuk berbagi, apalagi kalau udah memasuki WIBPC (Waktu Indonesia Bagian Pengen Curhat). Kayak pengennya setiap orang bisa mind reading aja, jadi gue nggak perlu ribet-ribet curhat dan mikirin apa ni orang bakal bisa sengerti itu. But writing helps me through it. Writing makes it easier.
Gue sadar, ternyata gue bukannya nggak punya orang untuk berbagi, bukannya nggak punya orang yang tepat untuk dicurhatin. I just can't express my feelings. I can't explain my thoughts. I can't tell what I feel and what's on mind. Gue cuma nggak tau gimana caranya mulai cerita serius. Gue kebanyakan basa-basi nanya kabar dan haha hihi sampe akhirnya bingung mesti mulai cerita dari mana dan kayak gimana. Tapi setelah mulai ngeblog lagi beberapa bulan lalu, gue ngerasa menulis itu emang magic, canggih. Meskipun kalimat demi kalimat nggak bener-bener spontan keluar langsung dari kepala, seenggaknya otak gue dipaksa berfikir untuk dapat merangkai kata-kata yang pas sehingga terciptalah suatu padanan kata yang tepat dengan apa yang gue pikirkan dan rasakan. Khan mean. Tapi serius, curhat lewat tulisan itu seru banget. Nggak kalah serunya sama curhat secara langsung. Curhat secara tertulis gini juga nggak mesti di blog aja. Apalagi kalau emang ternyata apa yang dicurhatin itu terlalu private dan nggak pantes buat dipublish. Kayak contohnya nih beberapa waktu lalu gue sempet yang udah mumet banget pengen cerita, tapi gue bingung mesti mulai cerita kayak gimana. Pengen nulis tapi nggak mungkin ditulis di blog. Akhirnya gue memutuskan untuk nulis email ke salah satu cobat nan jauh di sana dan gue ceritain semua mulai dari awal sampe akhir. Terus kalau udah sampe di kalimat yang rasanya berat banget, gue langsung mewek aje meler-meler.
Kalau ada yang nanya nih ya (ya kalo ada yang baca juga), kalau curhat di IM kayak BBM gitu bedanya apa kan sama-sama ngetik juga? Ya iya sih sama, tapi feelnya itu beda. Kalau chat, gue cerita dikit, yang sana nyaut, gue nimpalin dikit lagi, sana nyaut lagi. Terus kalau nulis panjang banget di chat rasanya nggak enak aja gitu. Kalau pas kemaren gue cerita lewat email tuh enak banget yang bener-bener semuanya keluar sampe tumpe-tumpe. Tapi ini sih lebih ke saran aja. Gue nggak nyuruh buat harus curhat lewat email. Gue hanya sekedar berbagi. Lagian juga nggak semua curhatan bakal asoy diceritain lewat email. Kalau kayak yang cuma curhat galau-galau dikit tentang cowok dan nggak yang mumet parah sih ngapain, mending chat aja.
Selain curhat, yang gue suka lagi dari menulis terutama blogging adalah gue bisa melihat karakter orang dari sisi lain yang nggak pernah gue liat secara langsung. Jadi misalnya gini, gue selama ini menilai salah satu temen gue itu manja dan kebanyakan bercanda, terus yang kayaknya ni orang susah diajak serius gitu, apalagi untuk ngomong yang bener-bener serius dari hati ke hati. Tapi ternyata gue salah! Setelah gue nggak sengaja menemukan blognya dan baca hampir seluruh tulisannya, gue baru tau ternyata dia punya cara pandang yang oke (menurut gue) tentang hidup dan orang-orang sekitar. Dan yang kayak gini nggak cuma gue temukan di satu orang aja. Mungkin sebagai remaja yang lagi rempong banget mencari jati diri, gue jadi seneng sama orang yang pemikirannya kayak temen gue ini. Gue seneng sama orang yang meskipun di umur segini, nggak apa-apa ceritanya seputar cowok, cowok, dan cowok mulu. Tapi yang lebih bikin mikir atau at least ngerasa "ih sama banget!" Jadi kapan mau mulai nulis?
Writing is a way of talking without being interrupted.
Jules Renard