Happiness is way too far from my life. I'm not satisfied enough with what I got, what I have, and all the things that seem hard to get till the rest of my life. People are busy doing things as if their life's cool. And it's cool indeed. I'm sitting here. Wondering why my life could be this funny, why I could hate myself like this much, why I should be born this way, and so on. I've been worrying a lot about myself. Life is too short yet still I can't enjoy the ride. I can't let go of what I can't change. I can't manage my life wisely so my life doesn't manage me. I can't get things done so people prefer to put their trust in others. I know I shouldn't be like this. I wish I could just be another me. It's just myself for being unhappy thus leads me to be incredibly ungrateful.
*sign in* *create new post* *close* *blogwalking* *sign out* and it repeated like a hundred times. Kayak sebenernya udah niat banget pengen nulis sesuatu dari sediakala tapi setiap mau ngetik selalu aja buyar.
Kali ini gue bukan akan nulis tentang penyakit gondok. Jadi ceritanya sekarang gue mau rada ngesarkas dulu dikit di sini. Lagi nggak PMS sih, tapi dari kemarin setiap ngeliat apa-apa yang aneh dan nggak sreg di hati tuh rasanya jadi pengen ngedumel sendiri. Mungkin ini terlihat seperti ngurusin hidup orang banget, tapi ya emang iya sih. Abisnya gimana, gara-gara ini gue malah jadi gondok sendiri.
Oke langsung aja.
1. Akhir-akhir ini gue lagi sering banget main ask.fm. Saking seringnya, tiap hari gue selalu log in meskipun nggak ada yang nanya. Terus gue sering gitu stalking ask.fm anak-anak 'eksis' dan hampir selalu menemukan question macam 'likers get 10000000 likes?' and so on. Gue pribadi bikin account ask.fm karena sejujurnya ya emang pengen ditanya, terus gue jawab, dan itu seru banget. Terutama buat orang-orang yang lagi nggak ada kerjaan libur 2 bulan kayak gue gini. Meskipun ya gue akui kalau pertanyaannya kadang nggak penting dan nggak ngaruh juga di hidup gue. Gue seperti menemukan sosial media yang mengasah kesisinyampahan gue (hah?) untuk sekedar nulis lirik lagu atau ngeask orang kayak, "Ya ampun kok udah adzan Ashar aja dah perasaan baru 5 menit lalu gue lohoran?" Nggak penting banget ya? Haha. Biasanya gue sering banget nyampah kayak gitu di ask.fm Icha. Nah, yang bikin gue nggak ngerti di sini adalah si likers itu. Maksudnya apa sih, lo cuma pengen bikin ask.fm biar banyak yang ngelike gitu? Toh kalau answer lo asoy kan juga orang bakal ngelike dengan sendirinya. Jadi ini tuh biasanya ada tawaran gitu, kalau misalnya ada 10 orang yang ngelike, nanti yang ngelike bakal dikasih apa, atau saling ngelike satu sama lain. Ngerti nggak sih? Nggak jelas ya gue? Gitu deh pokoknya.
2. Masih seputaran ask.fm. Saking pengennya ditanya, gue (kalo lagi niat banget) suka sampe ngelink ask.fm gue ke facebook dan twitter, meskipun nggak ngaruh-ngaruh amat juga sih. Nah, yang gue nggak ngerti di sini adalah kok ada gitu yang ngelink ask.fm ke twitter (kayak seniat itu juga), tapi giliran ada yang ngeask, answernya cuma sekedar "kepo banget?" atau "gak" atau "ya gitulah kepo deh". WHAT? Lo udah seniat itu gitu sampe ngelink ke twitter tapi jawabnya cuma gitu doang. Makin nggak ngerti.
3. Problem yang udah sering banget digondokin adalah ngeliat orang yang ngetweet tiap pagi siang sore malem no istirahat tiada henti tiada batas. Udah super dilema bangetlah kalau ternyata orang yang macam begini itu temen sendiri, bahkan ada juga temen deket, tapi pengen unfollow. Mungkin si orangnya sendiri bisa dengan mudahnya ngetweet "feel free to unfollow" semudah dia ngetweet "doh pusing banget pengen obok" tapi apa di kehidupan nyata akan se-free itu juga? Belom lagi yang tiap hari cuma mention-mentionan sama pacarnya yang sebenernya bisa dilakuin di IM yang lebih private. Geez.
4. Beralih ke kehidupan nyata. Gue gondok segondok-gondoknya sama orang yang kalau kerja itu ngeluh. Kenapa sih? Kalau ngeluh macam "gue nggak sanggup nih begini, ini nggak gue banget" yang jatohnya jadi semacam curcol sih gue fine-fine aja. Tapi kalau udah yang tiap detik "ck ah" atau "hihhh" atau "duh" and so on, gue muak banget! Kayak misalnya lagi nyapu terus ngedumel, "Duh ah capek kerja mulu!" Lah, mending nggak usah nyapu sama sekali. Mending berdebu deh tuh lantai daripada kerjanya sambil ngeluh. Gue selalu ngerasa orang yang kerjanya sambil ngeluh itu kerjanya nggak ikhlas. (Padahal gue juga suka gitu) YAHAHA.
Sekian.
Since I've been having such a serious problem with acne, I thank God and a friend of mine for bringing me to Dr. Irma. It needed about 3 doctors and took more than 3 years to finally know and meet her. You know I've put so much efforts to get my flawless skin back like it used to. I swore I won't go to the doctor just because of her house or clinic is near my house. But I'd really go for the right one. So go back and forth between Pamulang and Tanah Abang once a week doesn't really matter for me. Moreover my mom is willing to pay it all.
But I never thought that to heal these acnes is gonna be this hard since eating martabak manis feels like doing a great sin. She told me not to eat this and that. So here I am, a 42 kgs lady who turns into a very picky eater. Geez.
Here are some foods to avoid and good to eat (for those with acne prone skin).
Worst:
chocolate, cheese, nuts, clams, shrimp, avocado, mango, banana, durian, soda, caffeine, non low-fat milk, junk food, too much sugar, fried food, and spicy food which eventually cause sweating.
Best:
dark chocolate, fish, broccoli, cucumber, tomato, grape, melon, papaya, green tea, and mineral water for sure.
It needs an intention and effort to make them disappear. Also a lot of hard work (and money). And I'll work my hardest for the sake of my face. Kyaa!
But I never thought that to heal these acnes is gonna be this hard since eating martabak manis feels like doing a great sin. She told me not to eat this and that. So here I am, a 42 kgs lady who turns into a very picky eater. Geez.
Here are some foods to avoid and good to eat (for those with acne prone skin).
Worst:
chocolate, cheese, nuts, clams, shrimp, avocado, mango, banana, durian, soda, caffeine, non low-fat milk, junk food, too much sugar, fried food, and spicy food which eventually cause sweating.
Best:
dark chocolate, fish, broccoli, cucumber, tomato, grape, melon, papaya, green tea, and mineral water for sure.
It needs an intention and effort to make them disappear. Also a lot of hard work (and money). And I'll work my hardest for the sake of my face. Kyaa!
Ada yang beda dong yes sama blog gue? Hehehe. Yep, gue baru aja merampungkan editan header blog yang gue selesaikan dengan seluruh tenaga dan keringat dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Iya maklumin aja gue kan masih pemula kalau soal edit-edit gini.

Oke.
Jadi begindang, udah sekitar seminggu ini gue libur semesteran dan sekitar semingguan juga gue cuma leyeh-leyeh nggak jelas di rumah. Salah satu drama korea, The Heirs, yang filmnya ada 20 episode dan setiap episodenya sekitar sejam, udah khatam gue tonton selama beberapa hari kemaren. Malah saking nggak ada kerjaannya, gue sampe nonton dua kali. Sebenernya sih itu juga gara-gara gue ketagihan liat Lee Min Ho yang idungnya cetar membahana bak perosotan TK Bunga Bangsa. Terus ditambah lagi, dari kemaren tuh hujan kayak hampir nonstop gitu, bikin mager. Akhirnya gue tanpa sengaja melakukan sebuah ritual yang udah sering banget gue lakukan akhir-akhir ini. Apalagi kalau bukan me-re-nung! Maka dari itu, pada kesempatan kali ini gue akan menumpahkan beberapa hasil renungan konyol selama gue berleyeh-leyeh santai di rumah.
Jerawat
Jerawat adalah one of the most annoying things in my life. Jerawat tuh selalu gue ibaratkan seperti cowok brengski. Kenapa? Karena menurut gue kedatangannya itu nggak pernah diharapkan. Datengnya ya suka-suka dia aja. Terus kalo dia udah puas menyakiti hati gue--dengan cara bikin gue males ngaca soalnya tiap ngaca langsung kesel sendiri liat muka jerawatan--dia lalu pergi meninggalkan bekas. Terus bekasnya itu bikin gue makin sakit hati soalnya ngilanginnya bakalan lebih susah daripada ngilangin jerawat itu sendiri. Masalah yang gue hadapi adalah obat dan makanan pantangan. Gue udah pake berbagai jenis obat mulai dari yang krim sampe tradisional bahkan pernah peeling juga, tapi ujung-ujungnya selalu gagal (dengan berbagai faktor). Ibu juga jarang masak, jadi kalau gue kebanyakan milih-milih makanan yang ada gue malah nggak makan sama sekali. Jadi susah banget buat gue untuk menghindari makanan-makanan pantangan itu. At the end, gue cuma bisa ngedumel sendiri dalam hati meratapi nasib muka gue.
Growing Uglier
Setelah gue ngeliatin foto-foto jaman SMP, kok ya gue malah ngerasa growing uglier gitcu alias tumbuh menjadi seseorang yang sangat cantik. Nggak deng, jadi jelekan gitu zzz. Gue lebih suka ngeliatin foto-foto gue yang jaman SMP gitu dengan rambut panjang terurai dan muka yang nggak ada bruntus-bruntus bekas jerawski. Terus dalem hati, "Aih dulu gue cantik juga ya coba sekarang masih begitu." HAHAHA. Tapi seriusan nih ya contohnya aja anak-anak Ber-9. Kedelapan sahabat gue itu tumbuh menjadi badas-badas ajaib gitu. Soalnya gue tau banget dulu mereka gimana. Apalagi Agni, gendut parah. Sementara gue di sini nggak ngerasa mengalami perubahan. Ya gini-gini aja. Emang sih rada konyol dan keliatan banget lagi nggak bersyukurnya. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan?
Bapak
Bapak
Nah ini nih. Kemaren gue baru aja berhasil meluapkan isi hati ke ibu tentang suasana rumah yang tak lagi seindah dulu, yang kemudian diiyakan juga sama ibu. Awalnya gara-gara gue nelfon ibu dan bilang, "Bu, aku di rumah bude. Kalau ibu udah pulang telfon aku ya. Aku pusing di rumah cuma berdua sama bapak. Stres aku." Dan di seberang sana ibu cuma ketawa-tawa macam evil laugh gitu. Iya, gue tuh sekarang stres kalau ditinggal berdua sama bapak di rumah. Taruh handuk sembarangan, piring kotor ditinggal di meja makan, abis solat sajadah nggak dilipet, abu rokok dimana-mana, taruh gelas sembarangan, dll. Sementara gue nggak suka ada handuk yang nimbrung di atas handuk gue, gue risih ngeliat abu rokok nggak pada tempatnya, dan gue lebih murka lagi ngeliat piring kotor yang ditaruh gitu aja di meja makan, padahal setelah makan doi cuci tangan dan tempat cuci tangannya itu ya tempat buat taruh piring kotor juga. Gue kayak, "KENAPA NGGAK SEKALIAN BAWA PIRINGNYAAAA!!!" dalam hati. Terus gue jadi mikir-mikir brengski gitu, kenapa sih gue harus punya bapak yang jadi susah gini buat diajak kompromi, padahal dulu nggak begini. Gue ngebayangin seandainya gue punya bapak yang lebih rapi dan pengertian gitu. Durhaka sih, tapi capek banget asli. Gue makan hati mulu. Apalagi gue itu tipe orang yang sekalinya nggak suka sama orang, ya udah susah lagi biar jadi suka. Gue suka ngerasa aja kalau bapak itu nggak bener-bener mendalami perannya sebagai seorang bapak, dengan segala tetek-bengek lainnya yang bikin gue bete kalau doi lagi di rumah.
Tapiiii.. gue udah bilang kan ya kalau itu cuma hasil renungan konyol semata. Konyolnya konyol rada serius sih yang emang ngaruh di hidup gue gitu makanya gue pikirin. Sebenernya dari semua itu, gue akui juga kalau gue emang lagi nggak bersyukur aja dan lagi nggak bisa mikir secara lempeng. Makanya gue terlihat rempong sendiri dengan pemikiran-pemikiran sempit itu. Tapi lo pasti juga pernah kan mikirin hal-hal yang menurut orang nggak penting tapi terasa penting buat lo?
Tapiiii.. gue udah bilang kan ya kalau itu cuma hasil renungan konyol semata. Konyolnya konyol rada serius sih yang emang ngaruh di hidup gue gitu makanya gue pikirin. Sebenernya dari semua itu, gue akui juga kalau gue emang lagi nggak bersyukur aja dan lagi nggak bisa mikir secara lempeng. Makanya gue terlihat rempong sendiri dengan pemikiran-pemikiran sempit itu. Tapi lo pasti juga pernah kan mikirin hal-hal yang menurut orang nggak penting tapi terasa penting buat lo?
Gile ya waktu cepet banget berlalunya. Btw selamat tahun baru yes buat semua makhluk di seluruh penjuru bumi, baik yang nyata maupun gaib. Buat yang masih UAS, jangan lupa tanggalannya ditulis 2014 ya jangan kayak orang susah move on gitu nulisnya masih 2013. Sebenernya gue udah pengen banget nulis ini dari akhir-akhir 2013 tapi berhubung tanggal 2 kemaren gue masih UAS kalkulus yang luar biasa menguras pikiran, jadi gue terpaksa mengurungkan niat sampe at least kelar dulu UAS yang satu itu.
Sebelum mereview apa yang udah terjadi di tahun lalu, gue mau terima kasih dulu sedalam-dalamnya dan sebesar-besarnya--kalau bisa pake cium dan peluk-peluk unyu--buat Icha yang udah menyempatkan diri untuk nulis tentang gue di blognya, meskipun awalnya gara-gara gue paksa. Gue bacanya sampe berlinang air mata saking sedihnya baca tulisan Icha yang banyak typonya, kan males. Haha nggak deng Ca, sumpah gue terharu banget bacanya. Gue nggak nyangka lo sedetail dan sengaco itu menilai gue.
You guys can simply click here to read her post.
Kalau ngomongin soal 2013, wah luar biasalah pokoknya. 2013 itu ibarat guru buat gue. Banyak pelajaran yang bisa gue ambil yang sekaligus merubah mindset gue, mulai dari hal besar sampe yang sekecil atom. Mulai dari ujian nasional yang gue sesalin banget kenapa nggak nyicil dari lama yang akhirnya memaksa gue untuk beli bocoran yang gue pake buat mapel bio, kimia, dan fisika. Efeknya, gue harus ngejar banget buat SBMPTN yang soal-soalnya bikin gumoh. Terus gue udah pernah cerita kan ya di postingan yang lalu kalau gue dilema gitu sebelum SBMPTN antara milih IPA atau IPS. Terus gue kayak jadi nyesel gitu kenapa gue harus dilema dan nggak fokus. Akhirnya gue gagal dapetin PTN yang gue idam-idamkan. Terus sempet kepikiran juga mungkin gara-gara gue UN nya ada yang curang karena pake bocoran, makanya gue nggak dikasih jalan buat dapet PTN yang gue mau. Nyesel sih, tapi ya udahlah ambil hikmahnya aja.
Setelah gue nggak diterima di beberapa PTN itu, dengan segala pertimbangan akhirnya sekarang gue kuliah di UIN. Nilai (+) yang gue dapet adalah di UIN wajib banget pake kerudung. Belum konsisten sih, tapi seenggaknya gue bisa sambil belajar nutup aurat. Mulai membiasakan diri gitu. Sholat juga ada kemajuan. Meskipun masih suka bolong-bolong, seenggaknya agak lebih rajin. Kalau di kampus banyak yang ngingetin dan ngajakin. Terus pola pikir gue juga better. Dulu gue suka menganggap rendah orang lain. Dulu gue mikir UIN tuh isinya ya gitu deh lo pasti ngerti. Tapi ternyata banyak juga yang selengean. Anak-anak kelas gue juga ternyata asik dan kocak banget. Bikin betah. Seneng gitu dapet temen-temen baru yang macem gini. Di sini gue belajar banget kalau ternyata gue mendingan tutup mulut deh daripada ngejudge sesuatu yang gue sendiri belum pernah ngerasain ada di dalemnya. Di UIN juga gue pertama kalinya ngerasain jadi vokalis nyanyi di depan orang banyak. Aih tsakeplah pokoknya.
Terus terus.. sahabat-sahabat tercintah juga pada diterima di berbagai PTN dan PTS. Most of them sih ngerantau. Sedih deh sepi gitu. Kalau mau kemana-mana suka nggak ada temennya. Biasanya sama Shofa, Agni, dll tapi sekarang pada jauh. Mainnya mesti nunggu pada balik. Soalnya dari sahabat gue yang Ber-9 dan d'cobats itu, ya gue doang yang kuliahnya masih di ketek emak, alias di kota sendiri, nggak merantau. Sering banget kepikiran "ya ampun dulu kita masih alay-alay gitu terus pisah sekolah di SMA masing-masing, sekarang udah bukan pisah kampus lagi tapi pisah kota. Ntar kalau udah pada nikah gimana kabar ya?" Gitu deh mikirnya uda nikah-nikah aja. Ngak ngakkkk...
Sebenernya sih momen-momen di 2013 kemaren nggak terlalu banyak dan wow macem liburan kemana atau nonton konser apa, dll. Tapi ada lah yang bikin gue jadi sering mikir. Kayak momen apapun itu selalu bikin gue mikir banyak tentang hidup dan belajar gimana caranya hidup tuh mesti dibawa happy. Karena mungkin ada hal-hal kecil yang sebenernya bisa bikin gue seneng tapi karena guenya sendiri over thinking jadinya malah bikin stres. Nih kayak contohnya gini nih yang bikin gue mikir. Kemaren persis banget sebelum tahun baruan, tanggal 31 siang, pakde gue meninggal karena sakit. Gue ikut sampe ke pemakaman. Persis di sekitar liangnya, di papan nisannya tertulis jelas banget ada yang meninggal tanggal 24 bahkan 30. Terus gue jadi mikir gitu kalau dengan bertambahnya tahun belum tentu dibarengi dengan bertambahnya umur. Makanya selagi bisa lempeng, kenapa hidup mesti dimacem-macemin, apalagi cuma biar dikata keren. Nyambung nggak sih? Enggak ya?
Tahun lalu bener-bener deh ngajarin banyak banget. Gue sendiri ngerasa 1-2 tingkat lebih dewasa (ahayde) meskipun masih suka nyeleneh juga. Sebisa mungkin setiap ngelakuin apa-apa pengennya lepas. Yang penting happy dan nggak bikin sakit hati. Terus mulai ada kemauan buat belajar serius, jangan bego-bego amat jadi orang. Tapi belajar seriusnya bukan cuma kalkulus, maksudnya yang lebih universal. Terus nih ya biasanya kan orang-orang pada bikin resolusi buat tahun selanjutnya. Kalau resolusi gue di 2014 sih paling semoga gue makin dewasa. Klise sih tapi ini penting banget. Terus lebih punya kemauan lagi buat nambah wawasan dan nggak statis, serta menata hidup supaya lebih terarah. Azek. Yang pasti pressure less, happy more!
Sebelum mereview apa yang udah terjadi di tahun lalu, gue mau terima kasih dulu sedalam-dalamnya dan sebesar-besarnya--kalau bisa pake cium dan peluk-peluk unyu--buat Icha yang udah menyempatkan diri untuk nulis tentang gue di blognya, meskipun awalnya gara-gara gue paksa. Gue bacanya sampe berlinang air mata saking sedihnya baca tulisan Icha yang banyak typonya, kan males. Haha nggak deng Ca, sumpah gue terharu banget bacanya. Gue nggak nyangka lo sedetail dan sengaco itu menilai gue.
You guys can simply click here to read her post.
Kalau ngomongin soal 2013, wah luar biasalah pokoknya. 2013 itu ibarat guru buat gue. Banyak pelajaran yang bisa gue ambil yang sekaligus merubah mindset gue, mulai dari hal besar sampe yang sekecil atom. Mulai dari ujian nasional yang gue sesalin banget kenapa nggak nyicil dari lama yang akhirnya memaksa gue untuk beli bocoran yang gue pake buat mapel bio, kimia, dan fisika. Efeknya, gue harus ngejar banget buat SBMPTN yang soal-soalnya bikin gumoh. Terus gue udah pernah cerita kan ya di postingan yang lalu kalau gue dilema gitu sebelum SBMPTN antara milih IPA atau IPS. Terus gue kayak jadi nyesel gitu kenapa gue harus dilema dan nggak fokus. Akhirnya gue gagal dapetin PTN yang gue idam-idamkan. Terus sempet kepikiran juga mungkin gara-gara gue UN nya ada yang curang karena pake bocoran, makanya gue nggak dikasih jalan buat dapet PTN yang gue mau. Nyesel sih, tapi ya udahlah ambil hikmahnya aja.
Setelah gue nggak diterima di beberapa PTN itu, dengan segala pertimbangan akhirnya sekarang gue kuliah di UIN. Nilai (+) yang gue dapet adalah di UIN wajib banget pake kerudung. Belum konsisten sih, tapi seenggaknya gue bisa sambil belajar nutup aurat. Mulai membiasakan diri gitu. Sholat juga ada kemajuan. Meskipun masih suka bolong-bolong, seenggaknya agak lebih rajin. Kalau di kampus banyak yang ngingetin dan ngajakin. Terus pola pikir gue juga better. Dulu gue suka menganggap rendah orang lain. Dulu gue mikir UIN tuh isinya ya gitu deh lo pasti ngerti. Tapi ternyata banyak juga yang selengean. Anak-anak kelas gue juga ternyata asik dan kocak banget. Bikin betah. Seneng gitu dapet temen-temen baru yang macem gini. Di sini gue belajar banget kalau ternyata gue mendingan tutup mulut deh daripada ngejudge sesuatu yang gue sendiri belum pernah ngerasain ada di dalemnya. Di UIN juga gue pertama kalinya ngerasain jadi vokalis nyanyi di depan orang banyak. Aih tsakeplah pokoknya.
Terus terus.. sahabat-sahabat tercintah juga pada diterima di berbagai PTN dan PTS. Most of them sih ngerantau. Sedih deh sepi gitu. Kalau mau kemana-mana suka nggak ada temennya. Biasanya sama Shofa, Agni, dll tapi sekarang pada jauh. Mainnya mesti nunggu pada balik. Soalnya dari sahabat gue yang Ber-9 dan d'cobats itu, ya gue doang yang kuliahnya masih di ketek emak, alias di kota sendiri, nggak merantau. Sering banget kepikiran "ya ampun dulu kita masih alay-alay gitu terus pisah sekolah di SMA masing-masing, sekarang udah bukan pisah kampus lagi tapi pisah kota. Ntar kalau udah pada nikah gimana kabar ya?" Gitu deh mikirnya uda nikah-nikah aja. Ngak ngakkkk...
Sebenernya sih momen-momen di 2013 kemaren nggak terlalu banyak dan wow macem liburan kemana atau nonton konser apa, dll. Tapi ada lah yang bikin gue jadi sering mikir. Kayak momen apapun itu selalu bikin gue mikir banyak tentang hidup dan belajar gimana caranya hidup tuh mesti dibawa happy. Karena mungkin ada hal-hal kecil yang sebenernya bisa bikin gue seneng tapi karena guenya sendiri over thinking jadinya malah bikin stres. Nih kayak contohnya gini nih yang bikin gue mikir. Kemaren persis banget sebelum tahun baruan, tanggal 31 siang, pakde gue meninggal karena sakit. Gue ikut sampe ke pemakaman. Persis di sekitar liangnya, di papan nisannya tertulis jelas banget ada yang meninggal tanggal 24 bahkan 30. Terus gue jadi mikir gitu kalau dengan bertambahnya tahun belum tentu dibarengi dengan bertambahnya umur. Makanya selagi bisa lempeng, kenapa hidup mesti dimacem-macemin, apalagi cuma biar dikata keren. Nyambung nggak sih? Enggak ya?
Tahun lalu bener-bener deh ngajarin banyak banget. Gue sendiri ngerasa 1-2 tingkat lebih dewasa (ahayde) meskipun masih suka nyeleneh juga. Sebisa mungkin setiap ngelakuin apa-apa pengennya lepas. Yang penting happy dan nggak bikin sakit hati. Terus mulai ada kemauan buat belajar serius, jangan bego-bego amat jadi orang. Tapi belajar seriusnya bukan cuma kalkulus, maksudnya yang lebih universal. Terus nih ya biasanya kan orang-orang pada bikin resolusi buat tahun selanjutnya. Kalau resolusi gue di 2014 sih paling semoga gue makin dewasa. Klise sih tapi ini penting banget. Terus lebih punya kemauan lagi buat nambah wawasan dan nggak statis, serta menata hidup supaya lebih terarah. Azek. Yang pasti pressure less, happy more!